Selasa, 17 Maret 2020

ULUMUL HADIS



DISUSUN OLEH
KELOMPOK II

MOH KHAIRUL       (19 1700 004)
YUSRAN NASIR       (19 1700 016)


FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDI TADRIS IPS
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PAREPARE
2020


       KATA PENGANTAR

          Segala puji bagi Allah SWT, sang Pengatur Alam Semesta, yang telah melimpahkan kasih-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami membahas mengenai Bentuk-bentuk Hadis.  Atas dukungan yang diberikan dalam penyusunan makalah ini, maka kami mengucapkan terima kasih.
          Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.
          Demikian dengan makalah  ini,kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya.


Parepare,   Maret 2020

Penulis



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
BAB II PEMBAHASAN
A. HADIS QAULI ………………………………………….............................
B. HADIS FI’LI………………………………………………………………..
C. HADIS TAQRIR………………………………………..…………………..
D. HADIS HAMMI……………………………………………………………
E. HADIS AHWALI…………………………………………………………..
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
      Dalam kehidupan, umat Islam di dunia ini berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadis yang menjadi sumber dalam setiap penyelesaian masalah yang dihadapi oleh setiap orang Islam, baik dalam segi keyakinan, amaliyah dan akhlak.|
     Hadis merupakan segala ucapan, perbuatan dan ketetapan yang datang dari Nabi Muhammad. Dalam tradisi Islam, hadis diyakini sebagai sumber ajaran agama kedua setelah al-Quran. Hadis yang dijadikan dasar untuk melaksanakan ajaran Islam haruslah yang sahih dan autentik, bukan hadis yang lemah, apalagi palsu. Memahami pengertian hadis dan bentuk-bentuknya merupakan suatu ilmu yang penting dipelajari oleh setiap muslim. Oleh karena itu penulis akan menjelaskan pengertian dan bentuk-bentuk hadis.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan hadis qauli,fi’li,taqrir,hammi dan ahwali?
2. Apa saja contoh hadis qauli,fi’li,taqrir,hammi dan ahwali?
3. Apa penyebab adanya bentuk bentuk hadis?








BAB II PEMBAHASAN

A. Hadis Qauli(Hadis yang berupa ucapan)
Hadis qauli adalah segala yang disandarkan kepada nabi saw yang berupa perkataan atau perbuatan yang memuat berbagai maksud syara’, peristiwa, dan keadaan, bai yang berkaitan dengan aqidah, syari’ah, ahlak, maupun yang lainnya. Diantara contoh hadis qauli ialah hadis tentang doa rasul saw yang ditujukan kepada yang mendengan, menghapal, dan menyampaikan ilmu:
Terjemahan: semoga Allah memeri kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataan dariku kemudia menghapa dan menyampaikannya kepada orang lain, karena banyak rang yang berbicara mengenai fiqih padahal ia bukan ahlinya. Ada tiga sifat yang karenanya tidak akan timbul rasa dengki dihati seorang musim, yaitu ikhlas beramal semata-mata kepada Allah swt, menasehati, taa dan patuh kepada pihak penguasa; dan setia terhadap jamaah. Karena sesungguhnya doa mereka akan memberikan motifasi ( dan menjaganya ) dari belakang.( HR. Ahmad).
Cintoh lain hadis tentang bacaan Al-fatiha dalam sholat yang berbunyi:

Terjemahan: tidak sah sholat seseorang yang tidak membaca Al-fatiha al-kitab ( HR. Muslim ).

Contoh Hadis Qauli :
            Hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ubadah ibn al-Shamith bahwasanya Rasulullah saw bersabda:



لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
Artinya: ”Tidak (sah/sempurna) shalat bagi orang yang tidak membaca surat al-Fatihah”. (Shahih al-Bukhari, III: 204, hadits 714)

Periwayatan hadis secara qauli oleh nabi dilakukan dengan beberapa cara:
1. Sabda nabi disampaikan dihadapan orang banyak, baik melalui majelis-majelis ilmu, khutbah, ceramah dan sebagainya.
2. Sabda nabi dikemukakan di depan seorang atau beberapa orang saja
3. Hadis qauli dikemukakan oleh nabi sebab tertentu yang mendorongnya menyampaika hadis yang berkenaan dengan peristiwa tertentu itu.
4. Hadis dalam bentuk sabda tidak disertai dengan sebab tertentu.
5. Nabi tidak menyertakan perintah untuk menulis sabda itu kepada sehabat tertentu, nabi hanya bersabda dan seoran gatau beberapa sahabat yang mendengarkannya.
B. Hadis fi’li ( hadis yang berupa perbuatan )
Hadis fi’li adalah segala perbuatan yang disandarkan kepada nabi seperti cara nabi melaksanakan sholat, whudu, dan lain-lain dan disampaikan kepada umat islam melalui sahabat. Contoh hadis fi’li yaitu sebagai berikut:
Terjemahan: dari ibnu umar r.a berkata : Rasulullah jika melaksanakan sholat mengangkat kedua tanganya hingga sejajar bahunya kemudia takbir ( HR.Al-Bukhari ).
Hadis yang berupa perbuatan tidak diketahui langsung dari nabi tetapi melalui inpormasi yangdisampaikan oleh sahabat. Ketika nabi melakukan sesuatu, sahabat menyaksikan perbuatannya kemudian disampaikan kepada sahabat yang lain hadis fi’li dilihat dari proses periwayatannya masuk kategiri hadis yang disampaikan sahabat, dalam arti para sahabat yang menyampaikan kandungan hadis  yang berupa prbuatan itu kepada pra generasi sesame sahabat atau generasi berikutnya.
            Contoh Hadis Fi’liyah :

عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ فَإِذَا اَرَادَ اْلفَرِيْضَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ اْلفِبْلَةَ
“Dari Jabir berkata, bahwasanya Rasulullah pernah shalat di atas tunggangannya, kemana saja tunggangannya itu menghadap. Apabila beliau hendak (melaksanakan shalat) fardhu, ia turun dan menghadap ke kiblat” (HR. Bukhari-Muslim)

Hadis fi;li ini juga mempunyai beberapa kategori:
1. Hadis yang berupa perbuatan yang disebabkan oleh sebab tertentu
2. Hadis fi’li yang tidak disebabkan oleh sebab tertentu
3. Hadis yang berupa perbuatan yang dilakukan dihadapan orang banyak
4. Hadis yang berupa perbuatan yang dilakukan dihadan satu atau beberapa orang saja.


C. Hadis Taqriri ( hadis yang berupa persetujuan)
Hadis kategori ini dalam terminology  disebut dengan hadis taqriri, yaitu hadis yang berupa ketetapan nabi terhadap apa yang dating atau yang dilakukan para sahabatnya. Dalam hal ini, nabi membiarkan atau mendiamkan suatu perbuatan yang dilakukan oleh para sahabatnya, tanpa memberikan penegasan, apakah beliau membiarkan atau mempersalahkannya.
Jadi, materi dalam hadis kategori ini bukan dari nabi melainkan dari para sahabat yang kemudian disetujui oleh nabi. Sikap nabi yang demikian itu dijadikan dasar oleh para sahabat sebagai dalil taqriri yang dapat dijadikan hujjah dan atau mempunyai kekuatan hukum untuk menetapkan hukum.
Contoh hadis taqriri adalah hadis riwayat Abu Dawud berikut :

“ dua orang laki-laki pergi melakukan perjalanan. Ketika sampai waktu shalat dan keduanya tidak mendapatkan Air, mereka bertayamum dengan debu yang bersih lalu mendirikan shalat. Setelah itu, mereka menemukan air salah seorang diantaranya berwudhu dan mengulangi shalat, sedang yang lainnya tidak mengulanginya. “
Keduanya dating menghadap ke rasulullah dan menceritakan hal itu. Kepada yang tidak mengulang, rasulullah bersabda “ engkau telah mengerjakannya menurut sunnah”. Sedang yang lainnya nabi bersabda “ engkau mendapatkan pahala dua kali “.

Contoh hadis taqriri :
Sikap Rasul Saw, yang membiarkan para sahabat dalam menafsirkan sabdanya tentang shalat pada suatu peperangan, yaitu:


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ يَقُوْلُ حِيْنَ صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَأَمَرَنَا بِصِيَامِهِ قَالُوْ: يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّهُ يَزْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ صُمْنَا يَوْمَ التَّاسِعْ. {رواه أبوداود}
        Janganlah seorangpun shalat Ashar, kecuali nanti di Bani Quraidhah. (H.R. Al-‎Bukhari)

     

 Sebagian sahabat memahami larangan itu berdasarkan pada hakikat perintah tersebut sehingga mereka terlambat dalam melaksanakan shalat Ashar. Segolongan sahabat lainnya memahami perintah tersebut untuk segera menuju Bani Quraidhah dan serius dalam peperangan dan perjalananya sehingga dapat shalat tepat pada waktunya. Sikap para sahabat itu dibiarkan oleh Nabi Saw. Tanpa ada yang disalahkan atau diingkarinya

Ada pula riwayat ysang mengatakan bahwa ‘Amr ibn ‘Abd  al-‘Ash(W.43 H) ketika menjadi paglima perang di peperangan dzat al-Salazil suatu malam ia bermimpi bersenggama dan keliuar sperma ketika masuk waktu subuh, Amr lalu bertayamum dan tidak mandi janabat karena udara terlalu dingin, dia menjadi imam shalat subuh pada hari itu Syahdan, para sahabat melaporkan peristiwa itu kepada nabi. Nabi segera minta penjelasan kepada Amr, mengapa dalam keadaan berhadas besar melakukan shalat bahkan menjadi imam shalat. Amr menjawab bahwa dirinya ketika itu telah bertayamum terlebih dahulu sebelum melakukan shalat. Kemudian Amr menyatakan bahwa dia mendengar firman Allah yang berbunyi “ dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah maha penyayang kepadamu”.
Mendengar penjelasan itu, nabi hanya diam saja dan tidak memberi komentar apa-apa. Sikap nabi yang demikian menunjukkan bahwa beliau menyetujui perbuatan mu’adz yang tidak mandi setelah junub tetapi sekedar tayamum sebagai ganti mandi karena udara pagi sangat dingin.



D. Hadis Hammi(Hadis yang berupa cita-cita)
Hadis yang berupa keinginan atau hasrat nabi yang belum terealisasikan.hadis kategori ini tidak disebutkan dalam beberapa defenisi hadis baik oleh ulama hadis,ulama ushul,maupun ulama fiqh.
Secara realitas,hadis hammi belum terwujud tetapi masih dalam ide dan keinginan yang pelaksanaannya akan di lakukan pada masa sesudahmya.Karena itu,pada hakikatnya,hadis kategori ini bukan perbuatan,perkataan,persetujuan,atau sifat-sifat nabi.Tetapi,perbuatan yang akan di lakukan oleh Nabi pada masa-masa berikutnyadan belum terwujud ketika Nabi mengingikannya seperti halnya hasrat berpuasa tanggak 9 “Asyura.Dalam sebuah hadis dari Ibn Abbas dinyatakan bahwa ketika Nabi berpuasa pada hari Asyura tanggal 10 dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa,mereka berkata:”Wahai Nabi, hari ini adalah hari yang di agungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasran”.Nabi bersabda:
(Tahun yang akan datang Insya Allah aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan)
Sikap Nabi demikian untuk menghindari waktu yang bersamaan dengan puasa orang Yahudi dan Nasrani.Pada saat hadis di atas disabdakan,Nabi berpuasa pada tanggal 10 dan setelah para sahabat memberi tahu bahwa saat itu adalah saat puasa bagi pemeluk dua agama di atas, Nabi kemudian barcita-cita untuk berpuasa pada tanggal 9 Asyura.Hasrat dan cita-cita itu belum terealisir karena Beliau wafat sebelum datang bulan Asyura tahun berikutnya
           Contoh Hadis Hammi :

        عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ يَقُوْلُ حِيْنَ صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَأَمَرَنَا بِصِيَامِهِ قَالُوْ: يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّهُ يَزْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ صُمْنَا يَوْمَ التَّاسِعْ. {رواه أبوداود


       Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, “Ketika Nabi Saw. Berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata, ‘Ya Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani’. Rasul Saw. Kemudian bersabda, ‘Tahun yang akan datang insya Allah aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan.” (H.R. Abu Dawud).


E. Hadis Ahwali(Hadis yang berupa hal ihwal)
Yang di maksud dengan hadis ahwali adalah hadis yang berupa hal ihwal Nabi yang berkenaan dengan sifat-sifat dan kepribadian serta keadaan fisiknya.Dengan kata lain, hadis ahwali adalah sesuatu yang berasal dari Nabi yang berkenaan dengan komdisi fisik,akhlak dan kepribadiannya.
Dua hal yang disebut dalam kategori hadis ahwali adalah:
1.        Hal-hal yang bersifat intrinsik berupa sifat-sifat psikis dan personalitas yang tercermin dalam sikap dan tingkah laku keseharian, misalnya cara-cara bertutur kata,makan, minum, berjalan, menerima tamu, bergaul dengan masyarakat, dan lain-lain. Aspek intrinsik ini masuk dalam kajian ilmu akhlak atau etika. Jadi hal-hal yang berkenaan dengan etika Nabi termasuk hadis ahwali. Tentang sifat Nabi, misalnya, dalam hadis Anas bin Malik disebutkan sebagai berikut:

                      “Rasulullah SAW adalah orang yang paling mulia akhlaknya”
2.         Hal-hal yang bersifat ekstrinsik yaitu aspek yang terkait dengan fisik Nabi misalnya tentang wajah, warna kulit, dan tinggi badan. Tentang keadaan fisik Nabi dalam beberapa hadis disebutkan di antaranya:

“Rasul SAW adalah manusia yang sebaik-baiknya rupa dan tumbu, keadaan fisiknya tidak terlalu tinggi dan tidak pendek”

Contoh Hadits Ahwali
 كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا. {متفق عليه} 
Rasulullah Saw, adalah orang yang paling mulia akhlaknya. (Mutafaq’alaih)

  كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا وَأَحْسَنَهُ خَلْقًا لَيْسَ بِالطَّوِيْلِ الْبَائِنِ وَلاَ بِالْقَصِيْرِ. {رواه البخاري}

        Rasulullah Saw, adalah manusia yang sebaik-baiknya rupa dan tabuh. Keadaan fisiknya tidak tinggi dan tidak pendek. (H.R. Al-Bukhari).


BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
  Adanya macam macam bentuk hadis dikarenakan redaksi yang di terima oleh para sahabat beragam. Begitupun dengan pengertian hadis, karena pegertian juga beragam sehingga bentuk-bentuk hadis terbagi pada qauli(perkataan),fi’li(perbuatan),taqrir(ketetapan),hammi(keinginan), dan ahwali(hal ihwal).

Daftar  Pustaka

Idri. 2010. studi hadis. Jakarta : Prenada Media Group

H. Munzier Suparta. 2010.  Ilmu Hadis. Jakarta : Rajawali Pers

  http://nurdin1983.blogspot.com/2015/10/bentuk-bentuk-hadis.html

Lampiran
LAMPIRAN
 



















5 komentar:

  1. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
    Nama : ASNI
    Pertanyaan saya

    Jelaskan keadaan hadis pada masa di bukukan?

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum
    Nama: Nurmi Al-Mukarramah Jamaluddin
    Nim : 19.1700.014

    Terimakasih atas kesempatan nya.
    Adapun pertanyaan sya mengenai makalah diatas yang membahas tentang hadis qauli,fi’li,taqrir,hammi dan ahwali...

    Di dalam sebuah peristiwa tentunya memiliki latar belakang yang menyebabkan peristiwa tersebut bisa terjadi nah pertanyaannya adalah jelaskan ap yang melatar belakangi kemunculan hadis" d atas yaitu hadis hammi dan ahwalii.
    Terimakasih...

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
    Nama : ASNI
    Pertanyaan saya

    Jelaskan keadaan hadis pada masa di bukukan?

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum
    Nama:Tiyas Nurfalah
    Nim:19.1700.002
    Pertanyaan saya bisakah klompok 2 memberikan satu contoh hadis fi'li yang dikategorikan yang dilakukan dihadapan satu atau beberapa orang saja?
    Terima kasih

    BalasHapus